PWI Riau Gelar Diskusi Tantangan dan Masa Depan Pers Riau di Tengah Transformasi Digital, Pertahankan Kualitas dan Kredibilitas
PWI Riau mengelar diskusi dengan tema Tantangan dan Masa Depan Pers Riau, Selasa (15/9/2026)
Laporan : Muhammad Ali Akbar
Pekanbaru
DUNIA pers saat ini sedang berada pada fase perubahan yang sangat cepat. Perkembangan teknologi digital, media sosial, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), perubahan perilaku pembaca, hingga persoalan keberlanjutan bisnis media menjadi tantangan besar yang harus dihadapi insan pers.
Di tengah perubahan tersebut, pers tetap memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar demokrasi. Pers bukan hanya bertugas menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol sosial, memberikan ruang bagi suara masyarakat, serta menjadi bagian penting dalam membangun pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
Pembahasan mengenai “Tantangan dan Masa Depan Pers Riau” menjadi topik sangat penting dalam diskusi yang ditaja oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau, di Kantor Sekretariat Jalan Arifin Achmad, Selasa (15/9/2026).
Dalam diskusi tersebut menghadirkan Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru Erwin Ardian dan akademisi Fisipol Universitas Riau Suyanto, S.Sos., M.Sc., Ph.D., serta dipandu langsung moderator Ketua PWI Riau Raja Isyam Azwar.
Perubahan paling nyata yang sedang dihadapi pers adalah bergesernya pola konsumsi informasi masyarakat.
Dahulu masyarakat menunggu koran terbit, menonton televisi atau mendengarkan radio untuk memperoleh informasi. Kini, informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui telepon pintar atau handphone.
Satu peristiwa yang terjadi di Riau dapat langsung tersebar melalui Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp maupun berbagai platform digital lainnya.
Perubahan ini memberikan peluang besar bagi media Riau. Namun pada saat yang sama juga melahirkan persoalan baru.
Media tidak lagi hanya bersaing dengan sesama media. Media juga bersaing dengan content creator, influencer, akun media sosial, platform digital dan berbagai sumber informasi yang belum tentu memiliki standar jurnalistik.
Di sinilah profesionalisme wartawan menjadi semakin penting.

Tantangan terbesar pers ke depan bukan semata-mata bagaimana mendapatkan pembaca sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana mempertahankan kepercayaan pembaca dan
kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi.
Judul yang menarik tidak boleh mengorbankan fakta. Keinginan mendapatkan traffic tidak boleh membuat media mengabaikan verifikasi.
Pers Riau harus mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa informasi yang diterbitkan media profesional berbeda dengan informasi yang beredar begitu saja di media sosial. Wartawan harus tetap mengedepankan prinsip verifikasi, keberimbangan, independensi dan kepentingan publik
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau, H. Raja Isyam Azwar, menilai dunia pers saat ini sedang menghadapi perubahan yang sangat besar. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut teknologi dan cara masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga berkaitan dengan kualitas jurnalistik, keberlangsungan perusahaan media, profesionalisme wartawan hingga tingkat kepercayaan publik
Menurut Raja Isyam, diskusi ini penting karena pers tidak boleh hanya melihat perkembangan teknologi sebagai ancaman. Sebaliknya, perubahan tersebut harus dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang untuk melakukan pembenahan dan inovasi.

“Kami ingin membedah secara komprehensif berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi pers Riau ke depan. Dan sekaligus mencari solusi agar pers tetap mampu bertahan dan menjalankan peran pentingnya di tengah masyarakat.” ujar Raja Isyam.
Raja Isyam menjelaskan, salah satu tantangan paling besar yang dihadapi pers saat ini adalah semakin kuatnya pengaruh media sosial.
Masyarakat sekarang dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Setiap orang bahkan dapat memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa harus melalui proses jurnalistik seperti yang dilakukan media profesional.
Persoalannya, informasi yang beredar di media sosial tidak selalu melalui proses konfirmasi, verifikasi, pengecekan fakta dan keberimbangan.
Dalam kondisi seperti itu, produk jurnalistik yang diproduksi melalui proses panjang terkadang kalah cepat dibandingkan konten media sosial yang dibuat hanya untuk mengejar perhatian dan viralitas.
Raja mempertanyakan kondisi tersebut sebagai tantangan serius bagi insan pers.
“Benarkah masyarakat lebih percaya kerja serius pers atau hanya mencari konten viral yang dikerjakan tanpa verifikasi dan akurasi yang ketat. Oleh sebab itu, wartawan harus melakukan konfirmasi secara utuh, sehingga berita yang disampaikan secara profesional dan sesuai dengan kaidah jurnalistik serta tidak hoaxs," sebut Raja Isyam.
Menurutnya, pertanyaan tersebut harus dijawab bersama oleh seluruh insan pers. Sebab, kalau media profesional hanya mengejar kecepatan tanpa mempertahankan kualitas, maka pers akan kehilangan keunggulan utamanya.
Kecepatan Tak Boleh Kalahkan Akurasi
Raja Isyam menegaskan bahwa perkembangan digital memang menuntut wartawan bekerja cepat. Namun kecepatan tidak boleh menghilangkan prinsip dasar jurnalistik.
Wartawan tetap harus melakukan verifikasi, meminta konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, menyajikan informasi secara berimbang dan menghindari kesimpulan yang tidak memiliki dasar.
Dengan demikian, pers memiliki nilai lebih dibandingkan konten media sosial.
Menurutnya, kepercayaan publik merupakan modal utama media. Ketika masyarakat percaya bahwa sebuah media selalu menyajikan informasi yang benar, berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan, maka media tersebut akan tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Sebaliknya, apabila media ikut terjebak dalam penyebaran informasi yang belum terverifikasi demi mengejar jumlah pembaca, maka kredibilitasnya akan semakin menurun.
Selain persoalan teknologi, Raja Isyam juga menyoroti masalah keberlangsungan ekonomi perusahaan pers.
Pertumbuhan media berbasis internet memang semakin pesat. Namun pertumbuhan jumlah media tidak selalu diikuti dengan pertumbuhan pendapatan.
Media arus utama menghadapi tekanan dari berbagai sisi, terutama menurunnya sumber pendapatan tradisional seperti iklan dan advertorial. Kondisi ini membuat perusahaan media harus mencari model bisnis baru agar dapat terus menjalankan aktivitas jurnalistik secara profesional.
Menurut Raja, persoalan ekonomi media tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebab, kualitas jurnalistik juga sangat berkaitan dengan kemampuan perusahaan media menyediakan sumber daya yang memadai.
Media membutuhkan wartawan yang kompeten, perangkat teknologi, biaya operasional, pelatihan, perlindungan hukum dan berbagai kebutuhan lainnya.
Karena itu, masa depan pers tidak hanya ditentukan oleh kemampuan wartawan menulis berita, tetapi juga kemampuan perusahaan media membangun ekosistem bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Raja Isyam juga melihat adanya pertumbuhan jumlah media yang cukup signifikan di Riau. Namun, pertumbuhan secara kuantitas tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas.
Jangan sampai jumlah media semakin banyak, tetapi karya jurnalistik yang dihasilkan justru semakin lemah.
Media harus mampu menghasilkan berita yang memiliki nilai informasi, memberikan edukasi kepada masyarakat, melakukan kontrol sosial dan menjadi rujukan informasi yang dapat dipercaya.
Karena itu, wartawan dituntut terus meningkatkan kemampuan.
Kompetensi jurnalistik, pemahaman kode etik, kemampuan melakukan investigasi, penguasaan teknologi digital serta kemampuan memahami persoalan masyarakat menjadi bagian penting dari masa depan profesi wartawan.
Raja Isyam juga menekankan bahwa wartawan tidak boleh alergi terhadap teknologi. Ditambahkan Raja, kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), misalnya, harus dipahami dan dimanfaatkan secara bijaksana.
Teknologi dapat membantu wartawan dalam mencari data, melakukan riset, mengolah informasi dan mempercepat sejumlah pekerjaan teknis. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan tanggung jawab jurnalistik manusia. Wartawan tetap bertanggung jawab terhadap kebenaran informasi yang dipublikasikan.
"Perkembangan AI sendiri sudah menjadi perhatian organisasi PWI di daerah. PWI Kota Dumai, misalnya, pada Agustus 2026 menggelar workshop mengenai peran AI dalam jurnalistik dengan penekanan pada kualitas, kredibilitas dan etika pers di era digital," papar Raja Isyam.
Perubahan Teknologi Tak Bisa Dihindari
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Riau, Supriyadi, menilai perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat, termasuk terhadap dunia pers dan industri media di Provinsi Riau.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi bagian dalam diskusi bertema “Tantangan dan Masa Depan Pers Riau” yang ditaja Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau, Selasa (15/9/2026).
Dalam pemaparannya, Supriyadi mengajak peserta diskusi melihat perjalanan panjang industri media, khususnya perubahan dalam proses produksi berita. Menurutnya, perkembangan teknologi yang terjadi saat ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan bagian dari proses perubahan yang berlangsung secara bertahap dari masa ke masa.
Supriyadi bahkan mengenang bagaimana proses produksi media pada masa lalu masih dilakukan dengan peralatan yang sangat sederhana. Aktivitas jurnalistik dan percetakan membutuhkan proses panjang, mulai dari penyiapan materi berita, penyusunan tulisan, hingga proses pencetakan menggunakan perangkat dan teknik yang jauh berbeda dibandingkan dengan teknologi yang digunakan saat ini.
Supriyadi menggambarkan bagaimana pada masa lalu proses produksi media bahkan masih menggunakan senter dan plat cetak sebagai bagian dari tahapan produksi. Kondisi tersebut menunjukkan betapa besar perubahan yang telah terjadi dalam industri pers.
Namun, menurut Supriyadi, perubahan tersebut merupakan sebuah keniscayaan.
“Kemajuan perubahan itu pasti. Kita tidak bisa hindari. Karena saat ini, pertumbuhan media sangat cepat dan mudah diakses," ujar Supriyadi
Supriyadi menjelaskan, perubahan dalam dunia media tidak dapat dilepaskan dari perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Ketika pola kehidupan, aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat dan teknologi mengalami perubahan, maka media juga akan mengalami perubahan.
Menurutnya, perkembangan ekonomi di Riau dapat menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat mengalami perubahan dalam aktivitas sehari-hari.
Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, misalnya, dapat dilihat sejak dini hari. Banyak masyarakat sudah mulai bergerak menuju berbagai daerah untuk menjalankan aktivitas pekerjaan di berbagai sektor, termasuk sektor industri.
Perubahan pola kehidupan tersebut kemudian menciptakan kebutuhan baru terhadap informasi.
Masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, mudah diakses, aktual dan dapat diperoleh kapan saja. Kondisi ini pada akhirnya ikut mendorong media untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Jika pada masa lalu masyarakat harus menunggu koran terbit untuk memperoleh informasi, saat ini informasi dapat diterima masyarakat hanya dalam hitungan detik melalui perangkat digital.
Berita yang terjadi pagi hari bahkan dapat langsung diketahui masyarakat di berbagai daerah pada waktu yang hampir bersamaan.
Supriyadi menegaskan bahwa kondisi tersebut juga terjadi dalam industri media di Riau.
Perubahan dari media cetak menuju media digital telah mengubah hampir seluruh mata rantai produksi berita. Wartawan tidak lagi hanya dituntut mampu menulis berita, tetapi juga dituntut memahami perkembangan teknologi, multimedia, media sosial, video, fotografi digital hingga berbagai platform distribusi informasi.
Menurutnya, transformasi tersebut bukan sekadar perubahan alat yang digunakan wartawan dalam bekerja. Lebih jauh, transformasi digital telah mengubah cara media memproduksi, mendistribusikan dan berinteraksi dengan masyarakat.
Dahulu berita diproduksi untuk dibaca pada waktu tertentu. Kini berita dapat diperbarui setiap saat sesuai perkembangan peristiwa.
Media juga tidak lagi hanya berkomunikasi satu arah. Masyarakat dapat langsung memberikan tanggapan, komentar, kritik maupun informasi tambahan terhadap pemberitaan melalui berbagai platform digital. Dengan demikian, perkembangan teknologi telah membuat hubungan antara media dan masyarakat menjadi semakin terbuka dan dinamis.
Supriyadi juga menyoroti pertumbuhan media online yang semakin pesat di Provinsi Riau.
Menurutnya, perkembangan media digital telah membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku industri media untuk membangun dan mengembangkan platform pemberitaan. Berbagai media online hadir dengan karakter, latar belakang, segmentasi dan model pengelolaan yang berbeda-beda.
Di tengah perkembangan tersebut, para pelaku media juga bernaung dalam berbagai organisasi profesi dan perusahaan pers, di antaranya PWI, AJI, JPKI, AMSI, JMSI hingga SMSI.
Keberadaan berbagai organisasi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem pers di Riau semakin berkembang dan memiliki banyak warna.
“Semua tetap menjadi pelaku. Semua bertumbuh, semua berubah,” terang Supriyadi.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan bahwa perkembangan industri media tidak hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok atau satu organisasi saja. Seluruh pelaku memiliki ruang dan peran masing-masing dalam membangun ekosistem pers yang sehat.
Namun, perkembangan media digital menurut Supriyadi juga membawa tantangan yang tidak sederhana. Kecepatan penyebaran informasi harus diimbangi dengan akurasi, profesionalisme dan tanggung jawab jurnalistik.
Di tengah persaingan mendapatkan perhatian masyarakat, media dituntut tidak terjebak hanya mengejar kecepatan atau jumlah pembaca. Kualitas informasi tetap harus menjadi bagian utama dari kerja jurnalistik.
Perubahan teknologi juga membuat persaingan antar-media semakin terbuka. Masyarakat memiliki banyak pilihan sumber informasi sehingga media harus mampu membangun kepercayaan publik.
Dalam kondisi seperti ini, media yang mampu mempertahankan kredibilitas, menghadirkan informasi yang berkualitas serta beradaptasi dengan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Sebaliknya, media yang tidak mampu mengikuti perubahan zaman berpotensi kehilangan pembaca dan ditinggalkan oleh masyarakat.
Pers Harus Mampu Membaca Masa Depan
Supriyadi menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman bagi industri pers. Perubahan juga dapat menjadi peluang apabila mampu dimanfaatkan secara tepat.
Media harus mampu melihat perkembangan teknologi sebagai instrumen untuk memperluas jangkauan pemberitaan dan meningkatkan kualitas pelayanan informasi kepada masyarakat.
Transformasi digital memungkinkan media Riau tidak hanya menjangkau pembaca di dalam daerah, tetapi juga masyarakat Riau yang berada di luar daerah bahkan di luar negeri.
Dengan teknologi digital, berita mengenai Riau dapat diakses dari berbagai penjuru dunia.
Karena itu, tantangan terbesar pers ke depan bukan hanya bagaimana mempertahankan keberadaan media, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas jurnalistik di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.
Sinergi Pemerintah dan Pers
Dalam konteks pemerintahan, Supriyadi juga melihat media sebagai bagian penting dalam membangun komunikasi publik.
Pers memiliki fungsi strategis untuk menyampaikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik dan masukan.
Hubungan pemerintah dan pers, menurutnya, perlu terus dibangun dalam semangat keterbukaan dan profesionalisme.
Pemerintah membutuhkan media sebagai mitra komunikasi publik, sementara media membutuhkan akses informasi yang terbuka agar dapat menjalankan fungsi jurnalistik secara baik.
Karena itu, perkembangan pers Riau ke depan membutuhkan ekosistem yang sehat, termasuk dukungan terhadap kebebasan pers, peningkatan kapasitas wartawan, literasi digital serta penguatan profesionalisme perusahaan media.
Perubahan Adalah Keniscayaan
Dari pemaparan Supriyadi tersebut, dapat ditarik satu pesan penting bahwa perubahan tidak mungkin dihentikan.
Teknologi akan terus berkembang. Pola konsumsi informasi masyarakat akan terus berubah. Model bisnis media juga akan mengalami penyesuaian.
Karena itu, pers Riau tidak cukup hanya bertahan dengan pola kerja masa lalu. Media harus berani beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
Kecepatan harus berjalan bersama akurasi. Teknologi harus berjalan bersama etika. Kreativitas harus berjalan bersama profesionalisme.
Dengan demikian, masa depan pers Riau bukan ditentukan oleh seberapa cepat media mengikuti teknologi semata, tetapi juga oleh seberapa kuat media mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Diskusi yang ditaja PWI Riau tersebut menjadi momentum penting untuk bersama-sama memikirkan arah pers Riau ke depan, terutama menghadapi perubahan teknologi, perkembangan media digital, persaingan industri, perubahan perilaku masyarakat serta tuntutan terhadap kualitas dan profesionalisme jurnalistik.
Pada akhirnya, sebagaimana ditegaskan Supriyadi, semua pelaku pers merupakan bagian dari proses perubahan tersebut. Semua bertumbuh, semua berubah, dan semuanya dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Fitriadi Syam Raihan Juara 1
Pemenang utama Fitriadi Syam mengucapkan puji dan syukur atas raihan yang didapatkan pada lomba LKTJ tahun 2026 ini. "Alhamdulilah, saya ucapkan terima kasih kepada panitia yang mengelar lomba ini, dan saya bisa meraih juara 1. Mudah-mudahan raihan yang saya capai ini, tidak membuat saya puas, namun kedepannya bisa membuat saya lebih giat dan untuk berbuat yang lebih baik lagi, " ujar Fitriadi Syam.
Dijelaskan Fitriadi Syam bahwa keberhasilannya dalam meraih prestasi tidak luput dengan kerja keras dan terus belajar.
"Saya terus menulis saja kalau memang ada hal-hal yang menurut kita ada yang bagus kita tulis. Soal menang ini bonus saja,jadi dulu kita bahagia menang jadi nominator kebetulan hari ini ada kesempatan untuk menajdi juara 1. Dan saya rasa LKTJ Ali Kelana ini punya makna lebih walaupun tahun yang lalu saya juga juara di jurnalistik Pertamina tingkat nasional tahun lalu. Alhamdulillah tahun ini ada Anugerah Ali Aelana..
Pokok nya yang penting menulis saja bagi kita semua kemenangan ini adalalah bonus bagi kita semua. Oleh sebab itu, pesan saya teruslah menulis jangan hanya mengandal rilis, " tutur Fitriadi Syam.
Dalam pelaksanaan Anugerah Jurnalistik Ali Kelana 2026, PWI Riau menyebut kompetisi jurnalistik sebagai salah satu upaya mendorong lahirnya karya bermutu di tengah disrupsi media dan ancaman kecerdasan buatan. ***

Tulis Komentar